KALABAHI, -Bibit jagung komposit bantuan Pemerintah Propinsi NTT melalui Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Alor yang dibagikan kepada Kelompok Tani/KT Tunas Mekar, di wilayah Mebung, Desa Alimebung, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU), Kabupaten Alor merupakan bantuan bibit jagung yang rusak. Buktinya bibit jagung tersebut ditanam petani di wilayah itu sejak akhir November 2009 hingga saat ini tidak tumbuh.
Ketua KT Tunas Mekar, Lazarus Yupukolo, ditemui Pos Kupang, di kediamannya di Mebung, belum lama ini mengatakan, ia bersama petani di wilayah itu kecewa terkait bantuan bibit jagung komposit dari pemerintah karena bibit jagung yang didrop petugas dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Alor adalah bibit jagung rusak. Buktinya, bibit jagung itu setelah ditanam akhir bulan November 2009 lalu hingga saat ini tidak pernah tumbuh.
Menurut Yupukolo, bibit jagung bantuan di droping petugas kepada KT Tunas Mekar pada bulan November sebanyak 800 kg atau sekitar 16 karung plastik putih untuk pengembangan jagung di lahan kebun seluas 20 hektar. Bibit jagung itu, jelas Yupukolo, langsung dibagikan kepada anggota 20 orang anggota kelompok tani dan mereka langsung tanam jagung itu diatas lahan 3 ha.
“Tapi bibit jagung bantuan itu tidak tumbuh setelah ditanam. Saya amati kondisi bibit jagung itu telah dalam keadaan rusak. Sebab ketika didroping mata biji jagung (lembaganya) telah berwarna hitam. Kondisi ini bagi kami di kampung berarti jagung tersebut sudah rusak. Mungkin bisa saja karena jagung lama, atau jagung masih muda lalu dibuat jadi bibit agar di timbang berat, atau bisa saja jagung tersebut tidak dijemur,” tandas Yupukolo.
Akibat jagung tidak tumbuh, Yupukolo mengatakan, dirinya mendapat protes dari anggota kelompok tani sebab petani kecewa karena sudah mempersiapkan kebun secara baik kemudian tanam jagung dengan mengeluarkan energi lalu hasilnya tidak ada atau tidak tumbuh.
“Untung bibit jagung baru dibagikan kepada 20 petani,. Banyak petani lainnya belum dibagikan. Jika tidak saya bisa jadi bulan-bulanan kemarahan petani,” kata Yupukolo.
Dia mengaku bantuan bibit jagung rusak bantuan Pemprop NTT tersebut sudah dilihat langsung petugas dari Dinas Pertanian Propinsi NTT, dan dari Dinas Pertanian di Kabupaten Alor. “Petugas dari propinsi datang dan setelah diamati kondisi memang rusak. Petugas itu menawarkan lagi untuk menggantikan bibit jagung yang rusak itu tapi saat itu saya menolak sebab kalau di kirimpun bibit jagung itu mau di apakan sebab sudah melewati masa tanam,” jelasnya.
Mengatasi persoalan bibit yang tidak tumbuh itu, saat ini petani tengah melakukan penyulaman untuk menggantikan jagung yang tidak tumbuh menggunakan bibit lokal yang selama ini disimpan petani. “Jagung dengan bibit lokal yang ditanam sudah mulai hidup. Ada yang sudah tumbuh daun,” tandasnya.
Ia minta jika tahun berikutnya ada bantuan bibit maka sebaiknya pemerintah membeli langsung bibit di petani lalu membaginya. “Daripada datangkan dari luar ternyata bibit jagung rusak. Kita daerah jagung lalu mengapa jagung lokal milik kita tidak dipakai untuk bibit tapi harus ambil dari daerah lain,” tambahnya
Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di UPT Badan Ketahanan Pangan yang bertugas di Kecamatan Alor Tengah Utara, Ponsiano Korea, S.SPt (39) mengatakan, bibit jagung bantuan yang di tanam petani tapi tidak tumbuh baru diketahuinya setelah petani mengeluh kepadanya persoalan itu. Korea ditemui di kebun petani di wilayah Mebung, mengatakan, keluhan petani ini juga disampaikan kepada Kepala UPT Dinas Pertanian dan Peternakan Kecamatan Alor Tengah Utara/ATU, kemudian diteruskan ke Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Alor.
Menurut Korea, PPL maupun Kepala UPT Dinas Pertanian dan Peternakan Kecamatan ATU tidak mengetahui ada bantuan bibit jagung itu sebab pendropingan dilakukan langsung kepada petani oleh petugas dari kabupaten.
“Sebagai PPL setelah saya lihat kondisi jagung tidak tumbuh, maka saya arahkan petani segera melakukan penyulaman dengan bibit yang mereka miliki. Hal ini sudah dilakukan dan jagung mulai tumbuh,”ungkap Korea.
Ia berharap ke depan bila ada bibit jagung bantuan seperti itu, sebaiknya ada koordinasi sehingga bibit yang diberikan kepada masyarakat adalah bibit yang baik dan unggul.
“Biasanya ada tim seleksi bibit sebelum dibagikan kepada masyarakat. Seharusnya bibit seperti itu sudah harus dilihat sejak awal,” tandas Korea. PIJAR-(oma-PK)
saudaraku, saya pernah disuguhi makanan ringan oleh seorang teman berkebangsaan malaysia dalam kemasan yang bagus sekali. saya buka langsung saya cicipi. kata beliau, itu bisa diseduh pakai air panas. rupanya saudaraku, itu adalah jagung goreng yang dimol dan dicampur dengan susu dan gula halus. wah..wah.. kata saya, ini di kampung saya sering saya makan sebelum pergi sekolah pagi-pagi. kami pun langsung bicara bisnis jagung halus. so, rencana saya adalah mengajak dia ke alor untuk mensurvey produk jagung alor. he..he..rakyat kita diberi bibit jagung rusak.. kapan majunya friend.
Comment by sarimin adang — March 31, 2010 @ 06:58 |