PIJAR NTT (Perhimpunan Jurnalis Alor)

January 14, 2010

Turis Jerman Tewas Tergantung di Alor Dive

Filed under: BERITA UTAMA — pijarntt @ 12:27

Sudah empat kali, turis atau wisatawan manca negara (Wisman) asal Jerman bernama lengkap Dietmar Haack (45) datang ke Kabupaten Alor. Dia sangat terpikat dengan pesona pariwisata dan budaya Nusa Kenari. Taman laut Alor nan indah selalu ingin dinikmati Dietmar Haack sehingga ia datang lagi ke daerah ini bersama istrinya Angke Haack, Minggu (10/1/2010) untuk diving di salah satu taman bawah laut Alor terindah di dunia ini.

PIMPINAN Alor Dive, Thomas Schreiber mengaku telah mengenal Dietmar Haack sejak lima tahun lalu.  “Ini kali ke empat dia (Dietmar) datang ke Alor. Sebelumnya tidak ada masalah, semuanaya baik-baik saja,”kata Thomas.

Tapi Selasa (12/1/2010) sekitar pukul 14.30, warga Kalabahi sangat dikejutkan dengan informasi yang merebak bahwa seorang turis ditemukan sudah tewas tergantung pada salah satu pintu kamar di Kantor Alor Dive, kawasan Jembatan Hitam-Kalabahi. Ratusan warga Kalabahi dan sekitarnya pun menyerbu markas Alor Dive untuk kenyaksikan peristiwa itu.

Pantauan Alor Pos di TKP, Ditemar Haack, pria berpostur 172 Cm, kulit putih, rambut hitam dan mata coklat itu tergantung tanpa nyawa pada regel (kayu palang atas) salah satu kamar Kantor Alor Dive. Terdapat sebuah kursi tak jauh dari letak korban tergantung. Jarak ujung kaki korban dengan lantai hanya kurang lebih 4 Cm dan jarak kepala korban dengan kayu palang pintu bagian atas hanya sekitar 20 Cm sehingga masih bisa dijangkau tangan korban jika masih mau menyelamatkan diri.

Informasi yang dihimpun media ini di TKP (tempat kejadian perkara) meyebutkan bahwa salah satu warga setempat bernama Lasarus yang pertama kali melihat korban tergantung di pintu kamar. Saat Lasarus melintas di depan rumah Kantor Alor Dive yang juga tempat tinggal Thomas Schreiber, katanya pintu depan dalam keadaan terbuka, dan tanpa sengaja dia melihat ke dalam rumah itu. Pandangannya membentur sesosok tubuh yang tergantung di pintu kamar di dalam rumah, maka Lasarus menginformasikan apa yang dilihatnya kepada salah satu anggota Polres Alor yang kebetulan in the cost pada rumah yang letaknya di bagian barat Kantor Alor Dive.

Anggota polisi itu mengaku datang untuk melihat apa yang diinformasikan Lasarus. “Saat saya lihat dari luar melalui pintu depan, saya kira boneka yang tergantung karena tubuh korban putih,”ujar anggota polisi dimaksud. Saat ditemukan tewas tergantung, korban mengenakan baju kaos lengan pendek warna putih bertulisan di bagian punggung, dipadu celana blue jeans pendek.

Setelah memastikan bahwa yang tergantung itu manusia seorang Wisman, maka anggota polisi tadi menutup pintu depan rumah untuk mengamankan TKP lalu menghubungi teman-temannya di markas Polres Alor. Sejurus kemudian anggota Polres Alor tiba dan langsung memasang police line (garis polisi) dan mengolah TKP.

Istri korban, Angke Saack nampak shock berat. Tubuhnya terguncang, air mata menetes, menerawang jauh ke negerinya. Ia coba menghubungi sahabat dan kerabatnya melalui telepon seluler. Sementara itu, setelah mengolah TKP, polisi membawa jasad korban dengan mobil ambulance ke kamar mayat RSUD Kalabahi untuk dilakukan pemeriksaan secara medis. Kabarnya outopsi di leher korban dilakukan petugas medis RSUD Kalabahi, namun hingga berita ini naik cetak, aparat Polres Alor  belum bisa dikonfirmasi mengenai penyebab pasti kematian korban, apakah gantung diri, atau ada tindak kekerasan lainnya sebelum korban digantung.

Direktur RSUD Kalabahi, dr.Ketut Indranaya mengatakan bahwa tanda-tanda fisik orang meninggal bunuh diri itu keluar kotoran dari dubur serta keluarnya sperma dari kemaluan korban. Namun hingga berita ini naik cetak belum diperoleh kepastian apakah ada tanda-tanda sebagaimana dikatakan Ketut. Pantauan Alor Pos, saat korban ditemukan, nampak ada air liur meleleh dari mulut dan hidung.

Kuat dugaan saat itu, bahwa korban tewas bunuh diri. Bahkan Thomas Schreiber dari Alor Dive mengatakan bahwa korban mungkin depresi sehingga bunuh diri dengan cara menggantung diri. Namun, Thomas yang dikonfirmasi wartawan markas Polres Alor, Selasa (12/1/2010) malam  mengatakan, sejak tiba, korban dan istrinya sehat-sehat saja. Minggu (10/1/2009) malam, korban dan istrinya tidur di kediaman Thomas yang juga kantor Alor Dive. Senin (11/1/2010) malam, kata Thomas, korban dan istrinya menginap di Panti Asuhan Damian bersama Gisela Browka alias “mama putih”.

Selasa (12/1/2010) pagi sekitar pukul 7.00 Wita, kata Thomas, korban datang ke Alor Dive. Istri korban masih di Pantia Asuhan Damian. Setelah minum kopi, mereka (Thomas dan korban) bersama-sama dengan seorang tamu Wisman lainnya asal Swedia yang baru tiba  dengan pesawat dari Kupang ke Hotel Nurfitra di Pantai Beldang. Di Hotel Nurfitrah, lanjut Thomas, korban ikut mempelajari titik-titik diving di taman laut Alor dari video yang yang diputar pada DVD restaurant Hotel Nurfitra.  Soalnya Dietmar (korban) hendak diving bersama istrinya. Setelah itu Thomas dan korban kembali ke Alor Dive.

“Kami kembali ke rumah (Alor Dive) sekitar jam setengah satu (23.30 Wita) siang tetapi saya rasa mengantuk sehingga saya tidur. Anak saya Cavin juga tidur. Saya juga bilang ke Dietmar (korban) kalau mau tidur, tutup pintu depan, tetapi dia bilang masih mau baca-baca. Saat saya mau tidur, saya lihat di masih baca kamus di meja,”kata Thomas.

Saat Thomas dan anaknya Cavin tidur siang itu, diduga Dietmar menggantung diri. calvin yang bangun tidur lebih awal, membangunkan ayahnya Thomas dan mengatakan om tidur itu ada tergantung. Thomas mengaku saat bangun, sudah ada anggota polisi yang tiba di rumah itu.

Thomas mengatakan tak tahu persis penyebab tamunya itu tewas tergantung di pintu kamar rumahnya. Ditanya bahwa ada pihak yang menduga jangan sampai tamunya itu punya masalah seperti kehabisan uang, Thomas menegaskan bahwa korban punya uang cukup, bahkan akan memberikan sumbangan ke Panti Asuhan Damian. Soal visa tinggal di Indonesia , jelas Thomas, masih punya waktu hingga 16 Februari 2010. Mengenai profesi korban di Jerman, Thomas mengatakan bahwa korban adalah seorang mekanik di perusahaan.

Asal tahu saja, korban adalah warga Kota Lutherstadt Wittenberg-Jerman. Ia masuk ke Indonesia dengan Passport Nomor: 504288919 yang dikeluarkan di pejabat Duta Besar RI di Berlin-Jerman, Rindang Napitupulu tanggal 18 November 2009 dan berlaku hingga 16 Februari 2010.

Semula korban akan dikebumikan di Panti Asuhan Damian, tetapi menurut “Mama Putih”, istri korban membawa Jasad suaminya ke Bali , Rabu (13/1/2010)lalu. Sudah pasti kematian Dietmar ini diperhatikan pula pemerintah Indonesia dan Keduataan Besar Jerman di Indonesia.  j PIJAR/liki

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: