PIJAR NTT (Perhimpunan Jurnalis Alor)

September 1, 2010

Oknum kontraktor menangis di ruang Sidang

Filed under: HUKRIM — pijarntt @ 18:54

Salah satu oknum kontraktor di Kabupaten Alor, Rajab Serang akhirnya menangis diruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Kalabahi, Kamis (26/08/10) setelah berpelukan dengan Wakil Bupati (Wabup) Alor, Drs. Jusran M.Tahir. Rajab Serang terlihat menangis karena menyesali perbuatannya yang telah menghina Wabup Tahir pada bulan April 2010.

SEPERTI disaksikan wartawan , Wabup Tahir dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kalabahi, Sudarto, SH untuk memberikan keterangan sebagai saksi korban. Sebelumnya tiga saksi lainnya yakni sopir Wabup Alor dan anggota Linmas juga telah memberikan keterangan di PN Kalabahi. Sidang tersebut, dipimpin hakim ketua Popi Juliani,SH didampingi dua hakim angota yakni Didimus Hendot, SH dan Agus S, SH.

Dalam keterangannnya, Wabup Tahir menjelaskan kalau pada saat kejadian dia berada di luar daerah dan baru mengetahuinya setelah mendapat telepon dari rumah jabatan (Rujab). Dikatakannya, pada saat itu Rajab Serang mengeluarkan kata – kata kasar berupa makian.

Dia juga mengaku, tak tahu menahu soal proyek seperti yang disampaikan oleh Rajab Serang. “Saya tidak tahu proyek itu. Lokasinya dimana saya tidak tahu,” jawab Wabup Tahir ketika ditanya majelis hakim, Popi Juliani, SH.

Menurut Wabup Tahir, hal seperti ini baru dilakukan Rajab Serang terhadap dirinya, padahal kata Wabup Tahir dia sering membantu Rajab Serang. Hal ini dapat terlihat, kata Wabup Tahir, ketika memberikan pekerjaan kepada Rajab Serang untuk membuat gudang Mesjid di Kikilai.

“Saya pernah bantu dia saya kira dia pro sama saya ternyata tidak,” ujar Wabup Tahir.

Terhadap keterangan Wabup Tahir, terdakwa Rajab Serang ketika ditanya majelis hakim mengatakan tidak merasa keberatan dan apa yang disampaikan itu betul. Saat diminta majelis hakim untuk meminta maaf kepada Wabup Tahir, Rajab Serang terlihat keberatan. Menurut Rajab Serang, karena kasus ini sudah di p roses hukum, maka dirinya belum mau untuk meminta maaf dan baru akan melakukannya setelah mendapat putusan pengadilan.

Terkait apa yang disampaikan Rajab Serang ini, majelis hakim mengatakan, sebagai orang yang telah melakukan kesalahan dan beragama, maka wajib untuk meminta maaf. Selain itu, katanya permintaan maaf juga menjadi pertimbangan bagi hakim untuk memberikan putusan.

“Sebagai orang bersalah dan keyakinan beragama kita harus meminta maaf. Itu pun menjadi petimbangan bagi kami. Itu menurut bapak menurut hukum lain,” kata majelis hakim, Popi Juliani,SH.

Setelah mendengar “nasihat” dari majelis hakim, Rajab Serang akhirnya bangun dari tempat duduknya dan memeluk Wabup Tahir kurang lebih 2 menit. Terlihat mata Rajab Serang berkaca – kaca dan mengeluarkan air mata. Suasana sidang pun sempat hening, ketika dua anak manusia ibarat “bapak dan anak” ini saling berpelukan.

Seteleh berpelukan dan meminta maaf, majelis hakim kembali bertanya perasaan Wabup Tahir setelah mendapat permohonan maaf dari Rajab Serang. “Oh saya iklas bu, saya puas bu,” jawab Wabup Tahir. Meski telah melakukan perdamaian, kata majelis hakim, proses hukum kasus ini tetap berjalan.

Sementara itu, terdakwa Rajab Serang ketika ditanya majelis hakim, terkait “aksinya” di rujab, Senin 12 April 2010 lalu mengaku datang ke tempat tersebut dalam keadaan mabuk berat setelah kembali dari Moru.

“Saya datang dalam keadaan mabuk berat. Saya tidak sadar saya sudah ada di rujab,” ujarnya.

Terkait urusan proyek sepeti yang disampaikan Rajab Serang, menurut majelis hakim, jika proyek ini benar ada, maka sebaiknya ikhlaskan.”Soal proyek, kalau proyek itu betul iklaskan saja,” ujar hakim Didimus Hendot, SH.

Ketika ditanya majelis hakim, berapa botol minuman keras (miras) yang diminumnya, dia mengaku telah menghabiskan 10 botol bir dan 1 botol sopi (minuman beralkohol, Red) yang diminumnya selama dua kali yakni di Moru dan Kadelang.

Majelis mengatakan, miras bukan meluruskan masalah melainkan akan membawa masalah baru. Selain itu, miras juga tidak akan menghilangkan orang dari sanksi pidana. “Minuman (miras) tidak menghapus seseorang dari sifat pemindanaan,” ujar majelis hakim.

Sidang tersebut akan dilanjutkan, Selasa (31/08/10) dengan agenda tuntutan JPU. PIJAR-AP

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: